KEARIFAN TRADISIONAL DALAM EKOLOGI FLORA TATANGAR BANJAR

Rissari Yayuk

Abstract


Abstrak: Penelitian ini membahas kearifan tradisonal dalam ekologi flora tatangar Banjar. Masalah yang dikaji meliputi. Apa saja tatangar flora Banjar . Bagaimana kearifan tradisional dalam ekologi flora tatangar Banjar. Tujuan penelitian adalah mendeskripsikan tatangar flora Banjar dan kearifan tradisonal dalam ekologi tatangar flora Banjar. Metode yang digunakan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data catat, dan wawancara. Analisis data melalui interpretasi berdasarkan teori ekologi. Data dikumpulkan bulan Januari 2018 hingga Maret 2018. Wilayah pengumpulan data Desa Karang Intan dan Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan. Hasil penelitian menggambarkan tatangar flora Banjar meliputi penggunaan tumbuh-tumbuhan sebagai tanda dari pertanda terjadinya sebuah kondisi atau keadaan. Di samping itu, kearifan tradisonal dalam ekologi tatangar flora ini antaralain memberikan pengetahuan tentang menghormati daerah yang sakral, menentukan lahan subur atau tidak, membaca dimulainya sebuah musim, memelihara potensi alam yang menghasilkan, dan berhati-hati dalam kegiatan menanam. Simpulannya dalam penelitian dibalik tatangar Banjar menggunakan flora di sekitar masyarakat penutur sebenarnya mengajarkan pengetahuan tradisonal yang arif tentang cara beradaptasi dan mengendalikan lingkungan alam agar serasi dan sejahtera.

Kata kunci: budaya,tatangar, Banjar

Abstract: The problem discusses in this study is traditional wisdom in ecology of flora tatangar Banjar. The problem discusses include what a the example in ecology of flora tatangar Banjar. How does traditional wisdom the ecology of flora of tatangar Banjar. The aim of this study is to describe example in ecology of flora tatangar Banjar and traditional wisdom in ecology of flora tatangar Banjar. This study uses descriptive qualitative approach. Data collection techniques are recording and interviewing. Data analysis is done through interpretation based on ecological theory. Data was collected from January 2018 to March 2018. Data collection areas are Karang Intan and Banjarmasin villages, South Kalimanyan Province. The result describes example in ecology of flora tatangar Banjar and traditional wisdom the ecology of flora tatangar Banjar the using plansts as symbol from the sigh of a condition or situation. The behind, the result gives knowledge about respecting sacred areas, determining fertile and unfertile land, reading the start of a season, maintaining potential natural resouries and pay attention when doing plantation. The conclusion behind this study is teaching us about how to adapt and control nature to be harmonious and prosperous.

Keywords: culture, tatangar, Banjar


Keywords


culture; tatangar; Banjar

Full Text:

PDF

References


Amrih, P. (2008). Ilmu Kearifan Jawa. Yogyakarta: Pinus Book Publiser.

Andrian, S. N & Rifai, A. (2017). Komunikasi sosial dalam sastra hijau sebagai kontribusi kampanye lingkungan pada pendidikan dasar. Editor Abdulullah, et al. dalam Proseding PIBSI XXXIX, Semarang 7—8 November 2017. hal. 682—691.

Baso, G. (2009). Mophilolonga kutuvua: konsepsi masyarakat adat tarodalam mempertahankan kelestarian sumber daya hutan. dalam herwasono soedjito. situs keramat alami: peran budaya dalam konservasi keanekaragaman hayati (hlm. 240—266). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Djajasudarma, T. F. (2010). Metode linguistik; ancangan metode penelitian dan kajian. Bandung. PT Eresco.

Endraswara, S. (2016). Sastra ekologis. Yogyakarta: CAPS.

Fauzi, A. A. (2014). Kritik ekologi dalam kumpulan cerpen Kayu Naga karya korrie Layun Rampan melalui pendekatan ekokritik. Skripsi. Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta

Keraf, A. S. (2010). Etika lingkungan hidup. Jakarta: Kompas Media Nusantara.

Mahsun. (2007). Metode penelitian bahasa. Jakarta: Rajagrafindo Persada.

Mufid, S. A. 2010. Ekologi manusia dalam persfektif sektor kehidupan dan ajaran Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Oktavianny, L. (2016). Ekologi sastra lisan dalam ada istiadat berladang orang Musi di Musi Banyuasin dalam Sastra Ekologi. hlm. 172-189. Editor Suwardi Endrawara. Yogyakarta: CAPS.

Poerwanto, H. (2005). Kebudayaan dan lingkungan dalam perspektif antropologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2013. Kamus besar bahasa Indonesia, Edisi Keempat. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.

Ratna, I. N. K. (2014). Karya sastra, seni, dan budaya dalam pendidikan karakter sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Sobur, A. (2009). Semiotika komunikasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. (2011). Metode penelitian kuantitatif, kualitatif dan r&d. Bandung: Afabeta.

Tim. 2005. Urang Banjar dan kebudayaannya. Banjarmasin: Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan

Widianti, A. W. (2017). Kajian ekologi sastra dalam kumpulan cerpen pilihan kompas 2014 di tubuh tarra dalam rahim pohon. Skripsi. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Ciamis: FKIP Universitas Galuh

Yasa, I. N. & Astika, I. M. (2014). Sastra lisan. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Yayuk, R., Musdalipah, Dahliana, & Akbari, S. (2009). Tatangar atau wahana Banjar. Banjarbaru: Balai Bahasa Banjarmasin.


Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 UNDAS: Jurnal Hasil Penelitian Bahasa dan Sastra

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License.

 

 

Balai Bahasa Kalimantan Selatan

Jalan Ahmad Yani Km 32,2, Loktabat, Banjarbaru, Kalimantan Selatan

Telepon (0511) 4772641; Faksimile (0511) 4784328

Pos-el: jurnal.undas@kemdikbud.go.id

 

 Image and video hosting by TinyPicCreative Commons License 

 

Undas Indexed By

   

 

 @2016