Transivitas dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda

Puspa Mirani Kadir, Pika Yestia Ginanjar, Cece Sobarna

Abstract


The phenomenon of language is found mainly in Indonesian language and Sundanese language, one of which is the passive verbs; especially when the verb experiences the process of forming derivative words, either through affixation, reduplication, and compounding. Hopper and Thomson (1980) explain the relationship of transitivity and diathesis in the grammatical structure of verbs, especially in the field of study of affectedness of object; transitivity is divided into two types; (1) structural transitivity related to the predicate and two main arguments; and (2) traditional transitivity related to all elements in a clause transferring the action from agent to patient. This research aims to describe the transitivity level of Indonesian language by doing contrastive research with Sundanese language, based in the theory of Hopper and Thompson (1980) which focuses on the middle construction. The Sundanese language data is taken from sample sentences in Mangle Magazine (Edition 2018-2019), the drama script "Lalakon", and book “Kajian Bentuk dan Makna Konseptual Preposisi Bahasa Sunda”(Sobarna, C. dan Santy, 2019). The research results show there is a close relationship between Sundanese language passive sentence structures with prefixes ka-, ti-, with the infix -ar- and Indonesian language sentence structures with verbs prefixed ter-, also and Indonesian language verbs cannot be separated from the actions/activities of the actors, whether it is realized or not.

 

Abstrak

Fenomena kebahasaan banyak ditemukan dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda, salah satunya adalah bahasan verba pasif, terutama pada saat verba tersebut mengalami pembentukan kata turunan baik melalui proses afiksasi, reduplikasi maupun pemajemukan. Hopper dan Thompson (1980) menjelaskan hubungan transitivitas dan diatesis pada struktur gramatikal verba, khususnya pada bidang kajian affectedness of object yang mengklasifikasikan ketransitifan ke dalam dua jenis: (1) ketransitifan struktural yang berhubungan dengan predikat dan dua buah argumen inti; (2) Ketransitifan tradisional yang berhubungan dengan semua unsur di dalam sebuah klausa pemindahan tindakan dari agen ke pasien (Hopper & Thompson, 1980). Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan tingkat transitivitas bahasa Indonesia dengan melakukan penelitian kontrastif dengan bahasa Sunda, berdasarkan teori Hopper dan Thompson (1980) yang memfokuskan kajian pada konstruksi tengah. Data bahasa Sunda diambil dari contoh kalimat yang ada dalam Majalah Mangle (Edisi 2018-2019), naskah drama “Lalakon”, dan buku  “Kajian Bentuk dan Makna Konseptual Preposisi Bahasa Sunda” (Sobarna, C. dan Santy, 2019). Hasil pembahasan konstruksi tengah (middle construction), terlihat bahwa adanya keterkaitan erat antara struktur kalimat pasif bahasa Sunda yang berprefiks ka-,ti-, berinfiks -ar- dan struktur kalimat bahasa Indonesia yang memiliki verba berprefiks ter-., serta verba bahasa Indonesia tidak terlepas pada perbuatan/aktivitas pelaku apakah itu disadari atau tidak disadari.


Keywords


derajat ketransitifan; verba transitif; verba intransitif; transitivitas; middle construction

References


Almatsier, A. M. (1994). How to master the Indonesian Language. Indonesia: Jambatan

Comrie, B. (1989). Language Universals and Linguistic Typology (Second Edi). The University of Chicago Press.

Darheni, N. (2010). Analisis Kontrastif Klausa Pasif Bahasa Indonesia Dan Bahasa Sunda : Tinjauan Morfosintaksis. Jurnal Sosioteknologi, 9(19), 844-855.

Djadjasudarma, F. T. (1994). Tata Bahasa Acuan Bahasa Sunda. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Djadjasudarma, F. T. (2006). Metode Linguistik. Refika Aditama.

Gurssel, M., K. Hale, M. Laughren, B. L. (1985). A cross linguistic study of transitivity alternations. Chicago Linguistic Society 2, 48-63.

Hopper, P. J., & Thompson, S. A. (1980). Transitivity in Grammar and Discourse. Language, 56(2), 251-299. https://doi.org/10.2307/413757

Iswara, P. D. (2010). Lalakon. https://sastradrama.wordpress.com/2010/10/13/prana-d-iswara-lalakon-sunda/

Johanna Nichols, David A. Peterson, and J. B. (2004). Transitivizing and detransitivizing languages. 8(2), 149-211. https://doi.org/10.1515/lity.2004.005

Kadir, Puspa M. dan Pika Yestia Ginanjar. (2018). 500 Verba Bahasa Jepang. Unpad Press.

Kesuma, T. M. J. (2010). Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Indonesia. Masyarakat Linguistik Indonesia, 9(1), 46-60.

Muller-Gotama, Franz. (2001). Sundanese. Muenchen: Lincom.

Mulyadi, M. H. (2009). Kategori Dan Peran Semantis. Logat, V(1), 64.

Nishimura, Yoshiki (1993) Agentivity and causation in cognitive linguistics. In ; Kei-ichi Yamanaka & Toshio Ohori (eds). The locus meaning: Papers in honor of Yoshiko Ikegami, 277-292. Tokyo: Kuroshio Publishers.

Paulino, F., Niron, M., & Cendana, U. N. (2019). Tingkat Ketransitifan Verba Bahasa Lamaholot Dialek Ritaebang. 1-22.

Sembiring, S. I., & Mulyadi, M. (2020). Verba Transitif dan Objek Dapat Lesap dalam Bahasa Karo (Transitive Verb and Deletable Object in Karo Language). Lensa: Kajian Kebahasaan, Kesusastraan, Dan Budaya, 9(1), 46. https://doi.org/10.26714/lensa.9.1.2019.46-60

Sobarna, Cece dkk. (2002). Verba Berkomplemen di dalam Bahasa Sunda. Jakarta: Pusat Bahasa.

Sobarna, C. dan Santy, Y. (2019). Kajian Bentuk dan Makna Konseptual Preposisi Bahasa Sunda. Refika Aditama.

Sugiyono. (2020). Metode Penelitian Kualitatif. Alfabeta.

Wojowasito, S. (1978). Pengantar Sintaksis Indonesia. Bandung: Sintha Dharma

Yuasa, Shouko. (2001). Nihongo, Indonesiago ni Okeru Tai to Tadousei 'Voice dan Verba Transitif pada Bahasa Jepang dan Bahasa Indonesia' (In Japanese). Kobe




DOI: https://doi.org/10.26499/rnh.v10i2.4184

Refbacks

  • There are currently no refbacks.